Oleh: Hamilah AR
Beritakan.my.id, Opini--Krisis kemanusiaan yang terus melanda Gaza bukan sekadar tragedi lokal, melainkan cerminan nyata dari kerapuhan tatanan dunia dalam menjamin keadilan dan perlindungan bagi umat manusia. Serangan demi serangan telah menimbulkan luka mendalam yang tak kunjung sembuh. Ribuan nyawa melayang, jutaan lainnya hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan keterasingan, menjadi potret nyata dari kegagalan sistem global dalam melindungi hak asasi manusia.
Militer Israel tak habis habis nya menyerang Gaza. Israel melakukan pembunuhan terhadap para jurnalis yang meliputi berita di Gaza. Serangan Israel pada 10 Agustus 2025 menewaskaan lima jurnalis Al Jazeera du depan Rumah Sakit Al Shifa, Gaza. Di antara korban Adalah Anas Al Sharif, jurnalis senior yang dikenal berani dan konsisten melaporkan kekejaman Israel (mediaindonesia.com, 19-8-2025).
Lebih dari 242 jurnalis Palestina telah tewas sejak perang dimulai. Sekjen PBB Antonio Guterres mengutuk pembunuhan tersebut dan menyerukan investigasi independen, sekaligus menegaskan bahwa jurnalis harus dilindungi diwilayah konflik. (mediaindonesia.com, 12-8-2025).
Baca juga:
Rekening Dormant, Rugikan atau Makin Sengsarakan Rakyat?
Banyak pihak, mulai dari PBB, lembaga internasional dan nasional, aliansi, hingga tokoh internasional, nasional, dan media mengutuk hal tersebut. Serangan terhadap media adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan kebebasan pers. Ini bukan hanya tragedi profesi, tetapi juga upaya sistematis membungkam suara kebenaran.
Di sisi lain, Gaza menghadapi kelaparan massal. Menurut UNRWA, satu juta perempuan dan anak perempuan kini berada dalam kondisi rawan pangan, kekerasan, dan pelecehan. Blokade Israel menyebabkan bantuan kemanusiaan tidak dapat masuk, dan lebih dari 251 orang telah meninggal akibat kelaparan, termasuk 108 anak. Bahkan, 1.760 warga Palestina tewas saat berusaha mencari bantuan.
Sementara itu, Minggu malam 17 Agustus 2025 di Tel Aviv Demonstrasi besar-besaran menyerukan diakhirinya perang dan pembebasan sandera (metrotvnews.com, 18-8-2025) . Lebih dari 400.000 orang turun ke jalan, menunjukkan protes dan penolakan terhadap perang.
Pembunuhan jurnalis hakikatnya untuk membungkam media agar tidak menyiarkan kejahatan genosida di Gaza. Pembunuhan jurnalis tak hanya menghilangkan nyawa seorang manusia tapi juga membunuh nyawa perjuangan rakyat Gaza hingga kejahatan yang mereka lakukan sunyi senyap, mereka tutupi dan mereka buat propaganda kebohongan lewat media yang mereka buat .
Baca juga:
Tragedi Gaza dan Urgensitas Tegaknya Khilafah
Ini membuktikan bahwa Israel sangat brutal dan tak peduli dengan hukum apapun. Dengan sikap yang seperti ini Israel menunjukkan ketidakmampuan mereka mengalahkan perjuangan rakyat Gaza. Apapun upaya mereka tetap saja tidak bisa menutupi perbuatan kejam mereka.
Kondisi Gaza mencerminkan kegagalan sistem politik global yang berlandaskan pada kepentingan nasional dan dominasi kekuatan besar. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian, justru terbelenggu oleh veto negara-negara adidaya. Di sisi lain, negara-negara muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) belum menunjukkan solidaritas yang terorganisir dan efektif.
Penguasa negeri muslim masih tetap diam tak kunjung mengirimkan pasukan. Pengkhianatan mereka makin nyata. Nasionalisme dan cinta dunia menyandera mereka. Fragmentasi politik, ketergantungan ekonomi, dan lemahnya kepemimpinan membuat dunia Islam kehilangan arah dan kekuatan untuk membela saudara seiman di Palestina.
Pembunuhan terhadap jurnalis tak akan memadamkan perjuangan rakyat Gaza. Mereka tak gentar, terus berjuang dan menyuarakan keadilan dan kebenaran. Rakyat Gaza memahami kemuliaan yang Allah berikan atas tanah yang diberkahi dan juga kemuliaan menjaga tanah tersebut.
Nasib pilu Gaza bukan hanya tanggung jawab rakyat Palestina, tetapi juga tanggung jawab seluruh umat Islam. Umat Islam wajib menolong dan ikut mengobarkan semangat perjuangan rakyat Gaza hingga tanah yang diberkahi itu bisa dibebaskan seutuhnya dan Kembali ke tangan umat Islam.
Jihad dan Khilafah adalah solusi untuk pembebasan genosida di Gaza. Dalam konteks Gaza, Khilafah bukan sekadar simbol, melainkan solusi nyata. Di bawah Khilafah, wilayah Palestina akan menjadi bagian dari satu kesatuan umat, bukan entitas terpisah yang rentan terhadap agresi. Khalifah memiliki kewajiban syar’i untuk mengerahkan kekuatan militer demi melindungi nyawa dan kehormatan kaum Muslimin. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,"Imam (Khalifah) adalah perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim)
Baca juga:
Senjata Tanpa Peluru: Blokade Israel Membunuh Anak Gaza
Khilafah adalah perisai yang telah hilang. Maka untuk mengembalikannya adalah dengan Kesadaran akan Solusi inilah yang harus menjadi bagian dari kebangkitan intelektual dan spiritual umat. Ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan tuntutan syar’i dan solusi strategis.
Umat Islam harus bersatu dalam visi politik yang berlandaskan akidah, bukan Nasionalisme yang pragmatisme. Para ulama, akademisi, dan pemuda harus mengambil peran aktif dalam menyuarakan pentingnya Khilafah sebagai sistem satu satunya yang mampu menjawab krisis yang dihadapi umat.
Gaza adalah cermin dari kelemahan kita. Namun, dari luka itu pula, semestinya lahir tekad untuk membangun kembali perisai umat yang telah lama hilang. Khilafah bukan utopia, melainkan keniscayaan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka, saatnya umat Islam bangkit, bukan hanya dengan doa dan donasi, tetapi dengan perjuangan ideologis dan politik yang terarah. Wallahualam bishowab. [ry].